"TUGAS MENCARI JURNAL"
Nama/Prodi : Anggun Putri Andari (Pendidikan Agama Islam)
Judul Jurnal : Penerapan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Pribadi Yang Islami
Penulis/Penerbit : Elihami Elihami dan Abdullah Syahid
PENERAPAN
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER PRIBADI YANG
ISLAMI
Elihami Elihami
STKIP Muhammadiyah Enrekang, Indonesia
Email: elihamid@ymail.com
Abdullah Syahid
Universitas Muhammadiyah Parepare, Indonesia
Abstrak
Penelitian
ini membahas tentang penerapan pendidikan agama Islam pada sebagai upaya
pembentukan kepribadian muslim peserta didik yang islami. Jenis penelitian yang
digunakan adalah penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian menggunakan
interdisipliner, antara lain: pendekatan manajeman, pedagogis, sosiologis, dan
psikologis. Sumber data primer dari penelitian ini adalah guru Pendidikan Agama
Islam. Sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa data profil sekolah,
teori tentang konsep strategi pembelajaran, teori pendidikan agama Islam, dan
teori pembentukan kepribadian muslim. Teknik pengumpulan data menggunakan
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan tahapan
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian
ditemukan bahwa strategi pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan
kepribadian muslim peserta didik menggunakan dua strategi pembelajaran, yaitu
pembelajaran langsung dan pembelajaran tidak langsung.
Kata Kunci: Strategi
Pembelajaran; Kepribadian Muslim;Pendidikan Agama Islam; Peserta didik
Abstract
This study discusses the strategy of Islamic religious education
teachers in the teaching of Islamic Education as efforts to establish the
Islamic personality of the students. This type of research is qualitative
research. Interdisciplinary research approach used, among other things:
management approach, pedagogical, sociological, and psychological. Sources of
primary data from this study were teachers of Islamic education. Secondary data
sources in this study a school profile data, theories on the concept of the
learning strategies, Islamic religious of education theory, and the theory of
the formation of Muslim personality. Data collection techniques using observation,
interviews, and documentation. Data were analyzed using the stages of data
reduction, data presentation, and conclusion. The research found that the
learning strategies of Islamic education in shaping Muslim personality of
students use two strategies of learning, ie learning direct and indirect
learning.
Keywords: Learning Strategies;
Personality Muslim; Islamic Education;
Learners
A.
Pendahuluan
Pendidikan Agama Islam sebagai suatu proses ikhtiyariyah mengandung ciri dan watak
khusus, yaitu proses penanaman, pengembangan dan pemantapan nilai-nilai
keimanan yang menjadi fundamen mental-spritual manusia dimana sikap dan tingkah
lakunya termanifestasikan menurut kaidah-kaidah agamanya. Nilai-nilai keimanan
seseorang adalah keseluruhan pribadi yang menyatakan diri dalam bentuk tingkah
laku lahiriah dan rohaniah, dan ia merupakan tenaga pendorong/penegak yang
fundamental, bagi tingkah laku seseorang.
Pendidikan Islam juga melatih kepekaan (sensibility) para peserta didik
sedemikian rupa, sehingga sikap hidup dan prilaku didominasi oleh perasaan
mendalam nilai-nilai etis dan spritual Islam. Mereka dilatih, sehingga mencari
pengetahuan tidak sekedar untuk memuaskan keingintahuan intelelektual atau
hanya untuk keuntungan dunia material belaka, tetapi juga untuk mengembangkan
diri sebagai makhluk rasional dan saleh yang kelak akan memberikan
kesejahteraan fisik, moral dan spritual bagi keluarga, masyarakat dan umat
manusia. Pandangan ini berasal dari keimanan mendalam kepada Allah swt.
Berdasarkan undang-undang sistem Pendidikan
Nasional Nomor 20 tahun 2003 dijelaskan bahwa:
Pendidikan nasional bertujuan untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia Indonesia seutuhnya
yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, berbudi pekerti yang luhur, sehat jasmani dan
rohani, berkepribadian yang mantap, cerdas, kreatif, mandiri dan memiliki rasa
tanggung jawab.
Dalam upaya menanamkan perilaku keberagamaan
terhadap peserta didik, maka sangat diharapkan kepada setiap lembaga pendidikan
untuk memberikan pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan pada anak. Namun
besar kecilnya pengaruh yang dimaksud sangat tergantung pada berbagai faktor
yang dapat memotivasi anak untuk memahami nilai-nilai agama. Sebab pendidikan
agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu pendidikan
agama lebih dititik beratkan pada bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras
dengan tuntunan agama.
Pengaruh pembentukan jiwa keagamaan dan
perilaku keberagamaan pada lembaga pendidikan, khususnya pada lembaga
pendidikan formal (sekolah) banyak tergantung dari bagaimana karakteristik pendidikan
agama yang diberikan di sekolah tersebut. Hal tersebut dikarenakan sekolah
dalam perspektif Islam, berfungsi sebagai media realisasi pendidikan
berdasarkan tujuan pemikiran, aqidah dan syariah dalam upaya penghambaan diri
terhadap Allah dan mentauhidkan-Nya sehingga manusia terhindar dari
penyimpangan fitrahnya. Kaitannya dengan itu, dalam upaya pembentukan
pribadi muslim yang saleh, maka pendidikan melalui sistem persekolahan patut
diberikan penekanan yang istimewa. Hal ini disebabkan oleh pendidikan sekolah
mempunyai program yang teratur, bertingkat dan mengikuti syarat yang jelas dan
ketat. Hal ini mendukung bagi penyusunan program pendidikan Islam yang lebih
akomodatif.
Guru dalam menggunakan strategi pembelajaran,
hendaknya menyesuaikan dengan kondisi dan suasana kelas serta tentunya guru
dituntut perannya lebih banyak menggunakan strategi pembelajaran yang variatif.
Setiap strategi pembelajaran ada kelebihan dan kekurangannya. Agar tidak
terjadi kegiatan pembelajaran yang membosankan bagi peserta didik, seorang guru
perlu menciptakan strategi pembelajaran yang baik dan selaras dengan kebutuhan
peserta didik tersebut.
Berdasarkan fenomena tersebut, penulis
menganggap perlu untuk melakukan penelitian untuk melihat strategi yang
diterapkan guru pendidikan agama Islam dalam rangka menghasilkan output yang
handal, terutama dalam menciptakan peserta didik yang berakhlak dan berwawasan
keislaman. Begitu juga, peneliti secara khusus akan meneliti strategi
pembelajaran yang diterapkan oleh guru dalam mengajarkan mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam sebagai dasar utama dalam mewujudkan peserta didik yang
berkepribadian muslim.
B. Tinjauan
Pustaka
1.
Konsep Strategi Pembelajaran
Istilah strategi pada mulanya
digunakan dalam dunia militer yang diartikan sebagai cara penggunaan seluruh
kekuatan militer untuk memenangkan suatu peperangan. Seorang yang berperan
dalam mengatur strategi, untuk memenangkan peperangan sebelum melakukan suatu
tindakan, ia akan menimbang bagaimana kekuatan pasukan yang dimilikinya baik dilihat
dari kuantitas maupun kualitas; misalnya kemampuan setiap personal, jumlah dan
kekuatan persenjataan, motivasi pasukannya dan lain sebagainya.
Menurut J.R. David dalam dunia pendidikan
strategi diartikan sebagai “a plan,
method, or series of activities designed to achieves a particular educational
goal”. Jadi dengan demikian strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai
suatu perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut Darsono yang dikutip Mustahu bahwa
pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu secara umum dan secara khusus.
Pengertian pembelajaran secara umum adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh
pendidik sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah
yang lebih baik. Sedangkan pembelajaran secara khusus adalah suatu kegiatan
yang dilakukan secara tidak sadar dan tidak sengaja. Oleh karena itu
pembelajaran pasti mempunyai tujuan pembelajaran (learning), merupakan proses perubahan yang relatif konstan dalam
tingkah laku yang terjadi karena adanya sesuatu pengalaman atau latihan.
Pembelajaran ialah membelajarkan peserta didik
menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar, yang merupakan penentu utama
keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah,
mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar
dilakukan oleh peserta didik atau murid. Sedangkan menurut Corey sebagaimana
yang dikutip oleh Syaiful Sagala Pembelajaran adalah suatu proses dimana
lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut
serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi kondisi khusus atau
menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset
khusus dari pendidikan. Pembelajaran merupakan aktualisasi kurikulum yang
menuntut guru dalam menciptakan dan menumbuhkan kegiatan peserta didik sesuai
dengan rencana yang telah diprogramkan.
Berdasarkan beberapa definisi pembelajaran
tersebut, dapat dipahami bahwa, pembelajaran adalah proses yang disengaja
dirancang untuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam diri individu.
Dengan kata lain, pembelajaran merupakan sesuatu hal yang bersifat eksternal
dan sengaja dirancang untuk mendukung terjadinya proses belajar internal dalam
diri individu.
Kemp menjelaskan bahwa strategi pembelajaran
adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan pendidik dan peserta
didik agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada
dengan pendapat di atas, Dick and Carey juga menyebutkan bahwa strategi
pembelajaran itu adalah suatu set materi dan prosedur pembelajaran yang
digunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada peserta
didik.
Dari penjelasan di atas, maka dapat
ditentukan bahwa suatu strategi pembelajaran yang diterapkan guru akan
tergantung pada pendekatan yang digunakan; sedangkan bagaimana menjalankan
strategi itu dapat ditetapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan
metode pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan
dengan metode, dan
penggunaan teknik itu setiap guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antara
guru yang satu dengan yang lain.
2. Pertimbangan Pemilihan Strategi Pembelajaran
Pembelajaran pada dasarnya adalah proses
penambahan informasi dan kemampuan baru. Ketika kita berpikir informasi dan
kemampuan apa yang harus dimiliki oleh peserta didik, maka pada saat itu juga
kita semestinya berpikir strategi apa yang harus dilakukan agar semua itu dapat
tercapai secara efektif dan efisien. Ini sangat penting untuk dipahami, sebab
apa yang harus dicapai dalam menentukan strategi pembelajaran guru pun selalu
menggunakan strategi pembelajaran yang lebih dari satu. Pemakaian strategi yang
satu digunakan untuk mencapai tujuan yang satu, sementara penggunaan strategi
yang lain, juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain.
3. Prinsip-prinsip Penggunaan Strategi
Pembelajaran
Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip dalam
menggunakan strategi pembelajaran adalah bahwa tidak semua strategi
pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan.
Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Hal ini seperti yang
dikemukakan oleh Killen: “No teaching
strategy is better than others in all circumtances, so you have to be able to
use a variety of teaching strategies,; and
make rational decisions about when each of the teaching strategies is likely to
most effective”.
Apa yang dikemukakan Killen itu jelas bahwa
guru harus mampu memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan. Oleh
sebab itu, guru perlu memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi
pembelajaran sebagai berikut:
a. Berorientasi pada Tujuan
Dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama.
Segala aktivitas guru dan peserta didik, mestilah diupayakan untuk mencapai
tujuan yang telah ditentukan. Ini sangat penting, sebab mengajar adalah proses
yang bertujuan. Oleh karenanya keberhasilan suatu strategi pembelajaran dapat
ditentukan dari keberhasilan peserta didik mencapai tujuan pembelajaran.
b. Aktivitas
Belajar bukanlah menghafal sejumlah fakta atau informasi. Belajar
adalah berbuat; memperoleh pengalaman tertentu sesuai dengan tujuan yang
diharapkan. Karena itu, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktivitas
peserta didik. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada aktivitas fisik, akan
tetapi juga meliputi aktivitas yang bersifat psikis seperti aktivitas mental.
Guru sering lupa dengan hal ini. Banyak guru yang terkecoh oleh sikap peserta
didik yang pura-pura aktif padahal sebenarnya tidak.
c. Individualitas
Mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik.
Walaupun kita mengajar pada sekelompok peserta didik, namun pada hakikatnya
yang ingin kita capai adalah perubahan perilaku setiap peserta didik. Semakin
tinggi standar keberhasilan ditentukan, maka semakin berkualitas proses
pembelajaran.
d. Integritas
Mengajar harus dipandang sebagai usaha mengembangkan seluruh
pribadi peserta didik. Mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif
saja, akan tetapi juga meliputi pengembangan aspek afektif dan aspek
psikomotor. Oleh karena itu, strategi pem-belajaran harus dapat mengembangkan
seluruh aspek kepribadian peserta didik secara terintegrasi.
4. Pendidikan Agama Islam
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata
“pendidikan” berasal dari kata dasar didik dan awalan men, menjadi mendidik
yaitu kata kerja yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran).
Pendidikan sebagai kata benda berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan latihan.
Sedangkan menurut Rechey dalam bukunya Planning for Teaching, an Introduction, menyatakan pengertian
pendidikan sebagai berikut:
Istilah pendidikan berkenaan dengan fungsi yang
luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama
membawa warga masyarakat yang baru (generasi muda) bagi penuaian kewajiban dan
tanggung jawabnya di dalam masyarakat”.
Secara terminologis, para ahli pendidikan
mendefinisikan kata pendidikan dari berbagai tinjauan. Hasan Langgulung melihat
arti pendidikan dari sisi fungsi pendidikan, yaitu: pertama, dari segi
pandangan masyarakat, dimana pendidikan merupakan upaya pewarisan kebudayaan
yang dilakukan oeh genarsai tua kepada generasi muda agar kehidupan masyarakat
tetap berkelanjutan. Kedua, dari segi kepentingan individu, pendidikan
diartikan sebagai upaya pengembangan potensi-potensi yang tersembunyi dan dimiliki
manusia.
Sedangkan definisi pendidikan yang disandarkan
pada makna dan aspek serta ruang lingkungannya, dapat dilihat apa yang
dikemukakan oleh Ahmad D. Marimba, bahwa pendidikan adalah bimbingan atau
pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani
terdidik menuju terbentuknya kepribadian utama. Dalam sistem pendidikan
nasional, istilah pendidikan diartikan sebagai usaha sadar untuk meyiapkan
peserta didik melalui bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya di masa
yang akan datang.
Dari beberapa pendapat para ahli dapat
diketahui bahwa pendidikan merupakan aktivitas yang disengaja dan bertujuan
yang di dalamnya terlibat berbagai faktor yang saling berkaitan antara satu
dengan lainnya, sehingga membentuk satu sistem yang saling mempengaruhi.
Adapun definisi pendidikan agama Islam menurut
pendapat beberapa pakar adalah sebagai berikut :
a.
Menurut
Abdul Majid dan Dian Andayani dalam buku Pendidikan
Agama Islam Berbasis Kompetensi bahwa Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar
dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami,
menghayati, hingga mengimani, ajaran agama Islam, dibarengi dengan tuntunan
untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar
umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa. Dalam hal ini,
pendidikan agama Islam merupakan suatu aktivitas yang disengaja untuk
membimbing manusia dalam memahami dan menghayati ajaran agama Islam serta
dibarengi dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain.
b.
Menurut
Zakiyah Daradjat yang disitir oleh Abdul Majid dan Dian Andayani bahwa
pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta
didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu
menghayati tujuan, yang pada akhirnya mengamalkan serta menjadikan Islam
sebagai pandangan hidup. Di sini, pendidikan agama Islam tidak hanya bertugas
menyiapkan peserta didik dalam rangka memahami dan menghayati ajaran Islam
namun sekaligus menjadikan Islam sebagai pedoman hidup.
c.
Menurut
Azizy yang dikutip oleh Abdul Majiddan Dian Andayani mengemukakan bahwa esensi
pendidikan yaitu adanya proses transfer nilai, pengetahuan, dan ketrampilan
dari generasi tua kepada generasi muda agar generasi muda mampu hidup. Oleh
karena itu ketika kita menyebut pendidikan agama Islam, maka akan mencakup dua
hal (a) mendidik siswa untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak
Islam; (b) mendidik siswa-siswi untuk mempelajari materi ajaran Islam subjek
berupa pengetahuan tentang ajaran Islam.
d.
Menurut
Ahmad Supardi yang dikutip oleh Ahmad Tafsir, dkk bahwa pendidikan agama Islam
merupakan pendidikan yang berdasarkan Islam atau tuntunan agama Islam dalam
membina dan membentuk pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, cinta
kasih sayang pada orang tuanya dan sesama hidupnya dan juga kepada tanah airnya
sebagai karunia yang diberikan oleh Allah SWT. Dalam hal ini pendidikan Islam
adalah suatu bimbingan yang dilakukan untuk membentuk pribadi muslim yang cinta
kepada tanah air dan sesama hidup.
Jadi pendidikan agama Islam merupakan usaha
sadar yang dilakukan guru dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk
menyakini, memahami, dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan.
5. Pribadi Muslim yang Islami
1.
Pengertian
Pribadi Muslim yang Islami
Secara etimologi, kepribadian berasal dari kata
“pribadi” yang berarti manusia sebagai perseorangan, keseluruhan sifat yang
merupakan watak manusia, keadaan manusia sebagai perseorangan. Kemudian kata
itu mendapat awalan “ke” dan akhiran “an” yang berarti sifat hakiki yang
tercermin pada sikap seseorang yang membedakan dirinya dengan orang lain. Kata
ini dalam bahasa Inggris adalah “Personality” yang berasal dari kata Persona (bahasa Latin) yang berarti
kedok atau topeng. Yaitu penutup muka yang sering dipakai oleh pemain panggung.
Maksudnya untuk menggambarkan prilaku dan watak atau pribadi seseorang.
Secara terminologi, kepribadian adalah ciri
atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber
dari bentukan-bentukan yang diterimadari lingkungan, misalnya, keluarga masa
kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir. Kepribadian (personality) merupakan salah satu kajian psikologi yang lahir
berdasarkan pemikiran, kajian atau temuan-temuan (hasil praktik penanganan
kasus) para ahli. Objek kajian kepribadian adalah “human behavior”, perilaku manusia yang pembahasannya terkait
dengan apa, mengapa dan bagaimana perilaku tersebut. Kepribadian merupakan
pengaturan individu yang bersifat dinamis pada sistem fisik dan psikis yang
menentukan tabiatnya serta selaras dengan lingkungannya. Sigmund Freud
mengungkapkan bahwa kepribadian adalah integrasi dari landasan, ego dan super
ego. Landasan sebagai komponen kepribadian psikologis, ego sebagai komponen
psikologis, dan super ego sebagai komponen kepribadian sosiologis.
Schultz mengungkapkan bahwa konsep awal dari
kepribadian adalah tingkah laku yang ingin ditunjukkan kepada lingkungan sosial
dan kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh orang lain.
J. F. Dasbid menyebut kepribadian sebagai
nurani seluruh tingkah laku seseorang. Selanjutnya William Stern, seorang pakar
ilmu jiwa menyatakan bahwa kepribadian merupakan gambaran totalitas yang penuh
arti dalam diri seseorang yang ditujukan kepada suatu tujuan tertentu secara
bebas.
Menurut Phares berpendapat kepribadian
merupakan pola khas dari fikiran, perasaan serta tingkah laku yang membedakan
orang yang satu dengan yang lainnya dan tidak tidak berubah lintas waktu dan
situasi. Sedangkan G. W. All Port, berpendapat bahwa kepribadian merupakan
organisasi yang dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam diri individu yang
menentukan penyesuaian yang unik terhadap karakteristik perilaku dan
pemikirannya.
Kepribadian dapat dilihat dari empat aspek
muatannya. Pertama, aspek personalia, yaitu kepribadian dilihat dari pola
tingkah laku lahir dan batin yang dimiliki seseorang. Kedua, aspek
individualitas, yakni karakteristik atau sifat-sifat khas yang dimiliki
seseorang secara individu berbeda dengan individu lainnya. Ketiga, aspek
mentalis, sebagai perbedaan yang berkaitan dengan cara berfikir. Keempat, aspek identitas, yaitukecenderungan seseorang untuk mempertahankan sikap dirinya
dari pengaruh luar. Identitas merupakan karakteristik seseorang.
Kemudian kata “kepribadian” ditambah dengan
“muslim”, sehingga menjadi kepribadian muslim. Kepribadian muslim sendiri
berarti kepribadian yang menunjukkan tingkah laku luar, kegiatan-kegiatan jiwa,
filsafat kehidupan dan kepercayaan seorang Islam. Dengan kata lain, kepribadian
muslim adalah tingkah laku seorang muslim yang dimiliki oleh seseorang dan
menjadi ciri khas kepribadian yang membedakan seseorang tersebut dengan orang
lain, karena sikap dan tingkah lakunya menunjukkan pengabdian kepada Tuhan,
penyerahan diri kepadaNya. Kepribadian muslim adalah “pengalaman sepenuhnya
ajaran Allah dan Rasulnya”.
Kepribadian Muslim merupakan identitas yang
dimiliki oleh seseorang sebagai ciri khas dari keseluruhan tingkah laku
lahiriyah maupun batiniyah. Kepribadian manusia yang ideal menurut Islam,
dicontohkan pada sosok Nabi Muhammad Saw. Pada diri beliaulah yang
sebenar-benarnya terjadi keseimbangan antara tubuh dan jiwa sehingga mewujudkan
bentuk kepribadian yang hakiki dan sempurna.
Kepribadian muslim adalah kepribadian yang
seluruh aspek-aspeknya merealisasikan atau mencerminkan ajaran Islam.
Kepribadian muslim juga dapat diartikan kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya
baik tingkah laku luarnya, kegiatan-kegiatan jiwanya maupun filsafat hidup dan
kepercayaan menunjukkan pengabdian kepada Tuhan dan penyerahan diri kepadaNya.
Menurut Muhammad Zein bahwa kepribadian muslim tidak akan terlepas dari tiga
aspek yaitu: Iman, Islam dan Ihsan. Sedangkan
faktor pendidikan akhlak dilakukan dengan cara mempengaruhi dengan menggunakan
usaha membentuk kondisi yang mencerminkan pola kehidupan yang sejalan dengan
norma-norma Islam contoh teladan dan lingkungan yang serasi.
Berdasarkan pendapat para pakar menegenai
kepribadian muslim maka dapat diketahui bahwa, kepribadian muslim adalah cirri
khas seseorang yang membedakan dia dengan yang lainnya dari keseluruhan tingkah
laku lahiriyah maupun batiniyah yang dapat dibentuk melalui faktor internal
(bawaan) dan faktor eksternal (lingkungan).
2.
Struktur
Kepribadian Muslim yang Islami
Struktur kepribadian adalah aspek-aspek atau
elemen-elemen yang terdapat pada diri manusia yang karenanya kepribadian
terbentuk. Pada dasarnya aspek-aspek kepribadian itu dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu :
a. Kejasmanian, meliputi tingkah laku luar yang
mudah Nampak dan ketahan dari luar, misalnya: cara-caranya berbuat, caranya
berbicara, dan sebagainya.
b. Kejiwaan, meliputi aspek-aspek yang tidak dapat
segera dilihat dan ketahuan dari luar, misal: cara-caranya berfikir, sifat, dan
minat.
c. Kerohanian yang luhur, meliputi aspek-aspek
kejiwaan sitem nilai-nilai yang telah meresap dalam kepribadian itu yang
mengarahkan dan memberi corak seluruh kehidupan individu itu. Bagi orang-orang
yang beragama, aspek-aspek inilah yang menentukan kemana arah kebahagiaan,
bukan saja di dunia tetapi juga di akhirat. Aspek-aspek inilah yang memberi
kualitas kepribadian keseluruhannya.
3.
Berakhlak
Mulia
Akhlak artinya tabiat, budi pekerti
atau kebiasaan. Manusia yang berakhlak adalah manusia yang suci dan sehat hatinya,
sedangkan manusia yang tidak berakhlak adalah manusia yang kotor hatinya.
Manusia yang berakhlak (husn al-khuluq)
akan tertanam iman dan hatinya, sebaliknya manusia yang tidak berakhlak (su’ul al-khuluq) ialah manusia yang ada
sikap mendua dalam tuhan (nifaq) di dalam hatinya. Kembali kepada
kebenaran dengan melakukan tobat dari segala kesalahan yang pernah dibuat
sebelumnya.
C.
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif.
Penelitian kualitatif adalah prosedur penilitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang dapat diamati. Penelitian kualitatif dalam penelitian ini
bertujuan untuk menemukan persepsi guru pendidikan agama dalam membentuk
kepribadian muslim peserta didik.Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini
adalah pendekatan interdisipliner, antara lain: pendekatan manajeman,
pedagogis, sosiologis, dan psikologis. Penelitian ini menggunakan 2 (dua) jenis
sumber data, yaitu: Data Primer, dalam penelitian lapangan data primer
merupakan data utama yang diambil langsung dari para informan yang dalam hal
ini adalah guru Pendidikan Agama Islam. Data ini berupa hasil interview
(wawancara) dan Data Sekunder, pengambilan data dalam bentuk dokumen-dokumen
yang telah ada serta hasil penelitian relevan yang ditemukan peneliti. Data ini
berupa dokumentasi penting menyangkut profil sekolah, teori tentang konsep
strategi pembelajaran, pendidikan agama Islam, dan pembentukan kepribadian
muslim.Peneliti terlibat langsung di lokasi penelitian untuk mengadakan
penelitian dan memperoleh data-data konkret yang ada hubungannya dengan
pembahasan ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti yakni observasi
atau pengamatan cara-cara menganalisis dan mengadakan pencatatan secara
sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau
kelompok secara langsung. Untuk melaksanakan analisis data kualitatif ini maka
perlu ditekankan beberapa tahapan dan langkah-langkah yaitu reduksi kata dan
penyajian data serta verifikasi.
D.
Hasil Penelitian
1. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam pada
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Kepribadian Muslim
Peserta Didik
Seorang guru harus mengetahui tugas dan
tanggung jawabnya sebagai pendidik. Guru disamping memiliki tugas mengajar,
juga bertanggung jawab terhadap pencapian pembelajaran peserta didiknya.
Pencapaian pembelajaran harus memenuhi tiga aspek, yaitu kognitif, psikomotorik
dan afektif.
Dalam upaya guru membentuk kepribadian muslim
peserta didik melalui pembelajaran Pendidikan Agama Islam,guru menggunakan dua
strategi pembelajaran, yaitu :
1) Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Pembelajaran langsung mengutamakan proses belajar konsep dan
keterampilan motorik, sehingga menciptakan suasana pembelajaran yang lebih
terstruktur. pembelajaran ini biasanya dilakukan di dalam kelas, pelaksanaannya
terencana dan materinya diatur kurikulim.
Guna suksesnya strategi pembelajaran diperlukan pemilihan metode
pembelajaran yang tepat. Hal ini sangat mempengaruhi daya serap peserta didik
terhadap materi ajar dan diharapkan pengetahuan keislaman dapat menjadi tameng
bagi peserta didik terhadap perilaku menyimpang yang menafikannya dari ciri
kepribadian muslim. Agar materi tersebut tidak sekedar diketahui untuk
diujiankan atau sekedar menjalankan tuntutan kurikulum dan tugas. Adapun
beberapa hal yang bisa digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
yaitu :
a.
Metode
Persuasif
Pendekatan kepada peserta didik mulai dari pengetahuan kondisi,
motivasi, tingkat kecerdasan sampai latar belakang peserta didik sangat
diperlukan dalam pembelajaran. Inilah nantinya yang dijadikan dasar oleh guru
untuk menentukan arah pembelajaran selanjutnya.
b.
Kisah
yang Berisi Targīb dan Tarhīd
Kisah yang dimaksudkan bukan dalam arti sempit, yang diceritakan
kepada peserta didik tidak harus dari kisah sahabat Nabi atau tokoh-tokoh
Islam. Inilah salah satu alasan mengapa guru harus berwawasan luas, terutama
harus memiliki wawasan tentang materi yang diajarkan karena fakta yang relevan
dengan pentingnya sikap disiplin, tanggung jawab, dan saling menghargai dapat
menjadi bahan ajar yang kemudian dikemas dalam bentuk cerita.
Menurut Andi Ismail Saleh, berdasarkan pengalamannya menggunakan
metode kisah yang dikolaborasikan dengan Targhib
dan Tarhid pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam, disamping
menceritakan fakta yang relevan terkadang dia berdongeng. Dimana dalam dongeng
tersebut ada pelajaran yang dapat dipetik kaitannya dengan pentingnya sikap
religius, disiplin, dan saling menghargai, sehingga dapat terbentuk kepribadian
muslim pada diri peserta didik.
c.
Metode
Pengambilan Pelajaran dan Peringatan (Nasihat)
Dalam metode pengambilan pelajaran dan peringatan kaitannya
pembentukan kepribadian muslim peserta didik, guru menggugah hati peserta didik
lewat pengambilan pelajaran dan peringatan berupa nasihat agar materi
Pendidikan Agama Islam yang telah diajarkan dapat diimplementasikan peserta
didik secara sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari.
2) Pembelajaran tidak langsung (indirect instruction)
Merupakan strategi pembelajaran yang memperlihatkan bentuk
keterlibatan peserta didik yang paling tinggi karena fungsi guru disini
hanyalah sebagai fasilitator, peserta didik lebih banyak belajar melalui
observasi, penyelidikan, penggambaran inferensi data, pembentukan hipotesis dan
kesimpulan.
Strategi pembelajaran ini, peserta didik dituntut dapat memecahkan
masalah dalam kehidupannya, mempelajari kasus aktual dan respon seharusnya
terhadap kasus tersebut. Sehingga pembelajaran tidak langsung (indirect instruction) dalam pembentukan
kepribadian muslim peserta didik dapat mendorong peserta didik untuk berpikir
terhadap prilakunya.
a.
Sanksi
Perilaku peserta didik di luar sekolah seperti penggunaan pakaian
yang mempertontonkan aurat atau perilaku lain seperti merokok, membolos,
balapan liar mesti mendapatkan perhatian berupa respon sanksi mendidik yang
memberi efek jera. Sanksi tersebut bisa berupa sanksi yang ada nilai manfaatnya
untuk lingkungan seperti membersihkan atau sanksi fisik yang mendidik seperti
berdiri dan dilihat oleh semua orang.
Terkadang seorang guru tidak menghiraukan kegiatan peserta didik di
luar sekolah. Padahal kesuksesan dari pendidikan dapat di lihat pada kegiatan
di luar sekolah. Sehingga bila guru memposisikan dirinya sebagai orang tua,
maka akan merasa memiliki tanggung jawab lebih terhadap kebaikan dan
keberhasilan peserta didiknya.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Strategi Guru
Pendidikan Agama Islam pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam
Pembentukan Kepribadian Muslim
Manusia dengan akal pikirannya sebelum
melaksanakan suatu kegiatan yang sederhana maupun kegiatan yang sifatnya
kompleks dengan melibatkan berbagai komponen, terlebih dahulu membuat perencanaan-perencanaan
dan mempersiapkan segala sesuatu untuk memperlancar kegiatan tersebut.
1. Ibadah
Upaya pembentukan kepribadian muslim melalui kegiatan ibadah
diantaranya adalah sebagai berikut :
a)
Pelaksanaan
shalat dzuhur berjama’ah di mushallah
Para guru khususnya guru agama mengajak peserta didiknya untuk melaksanakan
shalat berjama’ah. Membiasakan peserta didik pergi ke mushallah untuk shalat
berjama’ah akan menambah keimanan dan keyakinannya kepada Allah swt dan secara
tidak langsung dalam diri peserta didik akan tumbuh rasa kasih sayang terhadap
sesama yang dapat memperkuat ukhuwah
Islamiyah. Dengan shalat dapat membuat hati peserta didik menjadi damai dan
tenang sehingga mereka akan berfikir bahwa dengan shalat dapat menentramkan
jiwanya, dengan begitu peserta didik akan semakin rajin dalam melaksanakan shalat
lima waktu, dan menjadi diri yang berpribadi muslim.
b)
Pengadaan
Sarana Prasarana Ibadah
Pengadaan sarana parsarana ibadah ini berupa bangunan mushallah,
pengadaan peralatan shalat, Alqur’an dan sebagainya. Pengadaan sarana
parasarana ibadah ini diharapkan mampu memotivasi peserta didik untuk
melaksanakan ibadah sehingga upaya ini dapat mendukung tercapainya tujuan
pendidikan Islam yaitu terbentuknya pribadi muslim.
2.
Kerja Sama Antar Guru
Adanya
komitmen dari semua guru untuk menegakkan aturan demi terbinanya generasi
bangsa dan agama yang ber-IMTAQ dan ber-IPTEK, sangat membantu dalam upaya
pembentukan kepribadian muslim peserta didik. Pelanggaran-pelanggaran di luar
sekolah kaitannya aturan yang berkaitan dengan perilaku yang menodai identitas
keislamannya dapat diminimalisir karena peserta didik mendapat pengawasan
lebih, mengingat kediaman guru yang menyebar disetiap daerah dan dekat dengan
peserta didik.
Fahrul
Asnur mengungkapkan bahwa dia menjadi takut untuk keluar malam sebab akan
dihukum di sekolah bila ketahuan oleh salah seorang guru.
Begitupun
ada kerjasama guru dalam memberi sanksi terhadap peserta didik yang melakukan
tindakan indisipliner seperti terlambat, bolos, tidak menggunakan seragam
lengkap.
3.
Lingkungan Keluarga
Tidak
bisa dipungkiri bahwa waktu guru bersama peserta didik dibatasi oleh jam
pelajaran sekolah. Setelah itu peserta didik lebih banyak menghabiskan waktu
bersama keluarga khususnya orang tua. Menurut Andi Ismail Saleh ada beberapa
lingkungan keluarga sebagai pendukung dalam upaya pembentukan karakter muslim
peserta didik, diantaranya :
1)
Pendidikan
Peserta
didik yang berasal dari keluarga berpendidikan sangat berbeda dengan peserta
didik yang berasal dari keluarga kurang berpendidikan. Hal ini terlihat pada tingkat perhatian peserta didik
terhadap pelajaran yang berbeda. Secara umum peserta didik yang berasal dari
keluarga berpendidikan tingkat perhatiannya terhadap pelajaran lebih tinggi
dari pada peserta didik yang berasal dari keluarga yang kurang berpendidikan.
Sehingga tingkat pengamalan terhadap pembelajaran pun berbeda.
2)
Prinsip
Adat
Peserta didik yang memegang teguh pada budaya. Dalam beberapa
daerah atau lingkungan keluarga budaya tersebut masih dipertahankan dan masih
sangat kental. Peserta didik yang berasal dari keluarga yang masih memegang
teguh perinsip adat dapat mencapai aspek afektif dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam sebagai upaya pembentukan kepribadian muslim walaupun hanya sekedar
memahami materi Pendidikan Agama Islam saja.
3)
Taat
Beragama (Religius)
Sama halnya dengan
prinsip adat, peserta didik yang
berasal dari keluarga yang religius
mampu mencapai rana afektif dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam sebagai
pembentuk kepribadian muslim, setelah memahami materi dalam pembelajaran.
Menurut Andi Ismail Saleh perilaku dekaden sangat dipengaruhi oleh moral.
Hubungannya dengan masyarakat, moral sangat dipengaruhi nilai-nilai kultur
(budaya). Dan seiring perkembangannya, budaya sangat dipengaruhi oleh
nilai-nilai agama.
Yunita Purnama mengatakan bahwa tugas dan aturan untuk senantiasa
menutup aurat saat keluar rumah tidak terlalu berpengaruh bagi dirinya, karena
sebelum tugas dan aturan tersebut berlaku padanya dia memang telah terbiasa
mengenakan jilbab dan berpakaian Islami karena dibiasakan oleh keluarga (orang
tua) sejak kecil.
4. Faktor Penghambat
a. Kurangnya Kesadaran dari Peserta Didik Mengenai Perilaku
yang Menunjukkan Kepribadian Muslim
Terkadang
beberapa peserta didik hanya mengindahkan tugas dan aturan bila berada dalam
pengawasan yang ketat dari guru. Sehingga setelah peserta didik keluar dari
lingkungan sekolah dan merasa tidak mendapatkan pengawasan dari guru lagi, dia
leluasa melakukan sesuka hatinya.
b. Lingkungan Keluarga dan Masyarakat
Berbedanya
latar belakang peserta didik membuat karakter mereka berbeda pula. Perbedaan
karakter tentunya membutuhkan penanganan yang bervariasi dalam pembentukan
karakter muslim peserta didik. Lingkungan keluarga di samping sebagai pendukung
dalam upaya pembentukan karakter muslim peserta didik, juga dapat menjadi
penghambat. Tidak semua peserta didik berasal dari keluarga yang meprioritaskan
pendidikan, memegang teguh prinsip adat dan religius.
Begitupun
pengaruh lingkungan masyarakat (pergaulan) menjadi masalah dalam perkembangan
moral peserta didik. Pemikiran dan kebiasaan yang didapat peserta didik lebih
banyak dipengaruhi oleh lingkungan serta pesatnya laju perkembangan teknologi
informasi sekarang ini. Mayoritas peserta didik mendapatkan informasi tentang
gaya berpakaian, variasi kendaraan, sampai mengenai seksualitas melalui media
internet atau teman yang juga menjadi sember penerangan utama. Hal ini
berbanding terbalik dengan hal yang semestinya, yang menyatakan bahwa
sesungguhnya pengetahuan seksualitas harus lebih banyak diperoleh dari orang tua atau guru yang senantiasa
menginginkan kebaikannya.
Dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut diatas, jalan yang
ditempuh oleh guru sebagai solusi adalah dengan pendekatan persuasif secara
individu. Artinya guru memberikan bimbingan dan perhatian khusus serta pendekatan
dengan orang tua peserta didik yang bersangkutan, sehingga ada kerja sama dalam
pembinaan.
3.
Hasil Penerapan Strategi Guru Pendidikan
Agama Islam pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan
Kepribadian
Hasil dari pembelajaran pendidikan agama Islam
yang dilaksanakan. Namun, dampak pembelajaran pendidikan agama Islam harus
dilihat dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik. Pembelajaran pendidikan
agama Islam dikatakan berhasil manakala peserta didik dapat memahami materi
pendidikan agama Islam sekaligus dapat mengaktualisasikan pemahamannya tersebut
dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan hasil
wawancara dengan Gusmiati sebagai berikut :
Berdasarkan pemaparan hasil wawancara tersebut
dapat dipahami bahwa dampak pembelajaran Pendidikan Agama Islam tidak bisa
langsung dilihat setelah dilaksanakannya pembelajaran. Karena pembelajaran
Pendidikan Agama Islam tidak hanya mentransfer materi kepada peserta didik saja
namun diperlukan adanya penghayatan terhadap materi sehingga menimbulkan adanya
perubahan sikap peserta didik setelah mendapatkan materi tersebut. Jadi,
pembelajaran Pendidikan Agama Islam harus mencakup segi kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Untuk mengetahui mendalam tentang hasil strategi pembelajaran pendidikan agama Islam terhadap kepribadian muslim
peserta didik, dapat dilihat pada pemaparan mengenai karakter muslim yang
diteliti berikut :
1)
Religius
Strategi pendidikan agama Islam yang diterapkan oleh guru pendidikan
agama Islam berdampak pada :
Pertama, kelancaran peserta didik dalam membaca Al-Qur’an setelah mengikuti
ekstrakurikuler IMTAQ. Hal ini terbukti pada hasil tes yang diamati oleh
peneliti, ada perkembangan peserta didik dalam membaca Alquran.
Kedua, Sikap dan perilaku peserta didik yang patuh
dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, dapat dilihat pada kegiatan shalatnya. Dalam melaksanakan shalat berjamaah di Mushallah beberapa peserta
didik tidak lagi harus diperintahkan untuk melaksanakan shalat berjamaah zuhur
di Mushallah. Selain itu ditemukan peserta didik yang melaksanakan shalat dhuha
ketika datang cepat di sekolah tanpa diperintahkan oleh guru. Kesadaran ini
muncul dari nasihat oleh guru pendidikan agama Islam. Sebagaimana diungkapkan Wahyudi.
2)
Disiplin
Diakui Gusmiati bahwa pencapaian dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam sebagai upaya pembentukan kepribadian muslim peserta didik bisa
dianggap belum optimal secara menyeluruh terhadap peserta didik. Kedisiplinan
dalam hal menaati aturan sekolah untuk berpakaian Islami pada jam sekolah patut
disyukuri. Apalagi pada umumnya peserta didik perempuan menggunakan jilbab pada aktivitas kesehariannya baik pada jam sekolah maupun diluar jam
sekolah.
Virda Zul Azzahrah mengatakan tugas yang diberikan oleh guru dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk mengenakan jilbab setiap keluar rumah
membuatnya menjadi terbiasa memakai jilbab, sehingga bila keluar rumah tanpa
mengenakan jilbab, terasa ada yang kurang dalam penampilannya. Begitupun Nurfadillah
mengungkapkan bahwa tugas untuk menutup aurat dari guru dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam membuatnya merasa nyaman bila mengenakan jilbab dan malu
bila tidak mengenakannya.
3)
Menghargai
Sesama
Dalam membentuk kepribadian muslim peserta didik, maka sekolah
perlu turut menciptakan lingkungan yang kondusif untuk menumbuhkan keimanan dan
ketaqawaan peserta didik melalui pembiasaan dan pembinaan moral peserta didik
melaui kegiatan-kegiatan religius.
Dari hasil observasi dan wawancara di sekolah, dapat diketahui
bahwa pembiasaan-pembiasaan yang dilaksanakan melalui pembiasaan berjabat
tangan ketika bertemu, senyum dan mengucapkan salam ketika bertemu guru
misalnya, hal tersebut menjadikan lebih akrab dengan guru sehingga berpengaruh
pada penghargaannya terhadap guru. Kemudian pembinaan moral peserta didik
dilakukan dengan nasihat, kegiatan keagamaan dan sebagainya. Dari upaya
tersebut sangat berpengaruh terhadap perubahan sikap peserta didik.
E.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diuraikan pada
pembahasan sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut: 1.
Sebagai upaya membentuk kepribadian muslim peserta didik, guru Pendidikan Agama
Islam menggunakan dua strategi pembelajaran, yaitu pembelajaran langsung (direct instruction) dan pembelajaran
tidak langsung (indirect instruction).
Adapu faktor pendukung strategi guru
Pendidikan Agama Islam pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam
pembentukan kepribadian muslim peserta didik adalah: 1) Kebijakan sekolah, 2)
Kerja sama antar pendidik, 3) Lingkungan keluarga dan masyarakat. Adapun faktor
penghambatnya adalah: 1) Kurangnya kesadaran dari peserta didik mengenai
perilaku yang menunjukkan kepribadian muslam, 2) Lingkungan keluarga dan
masyarakat. Sehingga hasil Penerapan Strategi Guru Pendidikan Agama Islam pada
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan kepribadian muslim
peserta didik berdampak baik pada perilaku religius, disiplin, dan menghargai
sesama, namun masih perlu dilakukan perbaikan dan perhatian khusus dalam hal
pembentukan perilaku disiplin.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu, dan Salimi, Noor. Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam. Jakarta:Bumi Aksara, 2004.
Alwisol. Psikologi Kepribadian. Malang: Penerbit Universitas Muhammadiyah
Malang, 2007.
Arifin, M. Kapita Selekta
Pendidikan. Cet. IV; Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Psikologi
Dakwah. Jakarta: Bumi Aksara, 2000.
Al-Banjari, Rahmat Ramadhana. Membaca
Kepribadian Muslim seperti Membaca Al-Qur’an. Yogyakarta: Diva Press, 2008.
Basrowi, dan Suwandi. Memahami Penelitian Kualitatif. Cet. I;
Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Darajat, Zakiah. Ilmu Jiwa
Agama. Jakarta: Bulan Bintang, 1996.
Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta:
Pustaka Assalam, 2010.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Cet. XI; Jakarta: Balai Pustaka, 2010.
Depdiknas, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan dan Kebudayaan, 2003.
Djamarah, Syaiful Bahri, dan
Zain, Azwan. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006.
Djamarah, Syaiful Bahri, (et.al.). KonsepBelajar
dan Pembelajaran. Cet.
III; Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Elmubarok, Zaim. Membumikan
Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta: 2008.
Enoch, M. Anak, Keluarga dan Masyarakat. Cet. III;
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1991.
Gazalba, Sidi. Pendidikan
Umat Islam. Cet. IV; Jakarta: Rajawali Pers, 1994.
Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2002.
Hartati, Nety. Islam dan
Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004.
Hidayat, Dede Rahmat. Psikologi Kepribadian dalam Konseling. Jakarta: Ghalia Indonesia, 2011.
Ihsan,
Hamdani, dan Ihsan, Fuad. Filsafat
Pendidikan Islam. Cet. II revisi; Bandung:
Pustaka Setia, 2001.
Jalaluddin, dan Idi, Abdullah. Filsafat Pendidikan Islam. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media, 2007.
Jalaluddin. Psikologi Agama. Cet. I; Jakarta: Grafindo Persada, 1996.
Jalaluddin, dan Said, Usman. Filasafat Pendidikan Islam: Konsep dan
Perkembangan Pemikirannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994.
Khobir, Abdul. Filsafat Pendidikan Islam. Pekalongan STAIN Pekalongan Press, 2007.
Lubis, Mawardi. Evaluasi
Pendidikan Nilai. Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Majid, Abdul,
dan Andayani, Dian. Pendidikan Agama
Islam Berbasis Kompetensi: Konsep
dan Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Malik, M. Abduh, dkk. Pengembangan Kepribadian Pendidikan Agama
Islam. Jakarta: Departemen Agama, 2009.
Marimba, Ahmad D. PengantarFilsafatPendidikan Islam. Bandung: Al Ma’arif, 1962. Moleong,
Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif.
Bandung: Remaja Rosdakarya Offset, 2003.
Mudhafir, Fadhlan. Krisis dalam Pendidikan Islam. Cet. I;
Jakarta: Al-Mawardi Prima, 2000.
Mujib, Abdul. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007.
Mulyasa, E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.
Mustahu. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan. Yogyakarta: S.I. Press, 2004.
Al-Nahdlawi, Abdurrahman. Ushul
al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Asalibuha fi al-Bayt wa al Madrasah wa al-Mujtama’ diterjemahkan oleh Shibabuddin dengan judul
“Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat”. Cet. II; Jakarta: Gema
Insani Press, 1995.
Nizar,
Samsul. Dasar-dasar Pemikiran
Pendidikan Islam. Cet.
I; Jakarta: Gaya Media Pratama,
2001.
Ondeng, Syarifuddin. Islam dalam
Berbagai Dimensi; Kajian tentang Agama, Sejarah dan Pendidikan. Cet. I; Makassar: Berkah Utami, 2004.
Prawita, Purwa Atmaja. Psikologi
Kepribadian dengan Perspektif Baru. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.
Purwanto, Ngalim. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2007.
Raharjo, Paulus
Budi. Mengenal Teori Kepribadian
Mutakhir (Yogyakarta:Kanisius, 1997.
Ramayulis, M. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 2002.
Rasyid, Harun. Metode
Penelitian Kualitatif Bidang Ilmu Sosial dan Agama. Pontianak: STAIN Pontianak, 2000.
Sagala, Syaiful. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung:
Alfabeta, 2003.
Sanjaya, Wina. Kurikulum dan
Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembangan KTSP. Cet. I; Jakarta: Kencana, 2008.
Strategi Pembelajaan
Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Cet. IV; Jakarta: Prenada Media
Group, 2008.
Sjarkawi.
Pembentukan Kepribadian Anak: Peran
Moral, Intelektual, Emosional, and Sosial sebagai Wujud Integritas Membangun
Jati Diri. Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2008.
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta,
2003.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif dan R & D. Cet.VI; Bandung: Alfabeta, 2009.
Suharto, Toto. Filsafat Pendidikan
Islam. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2006.
Suprayogo Imam, dan Tobroni. Metode Penelitian Sosial-Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.
Surachman, Wiranto. Metodologi
Pengajaran Nasional. Bandung: CV. Jenmarsit,
t.th.
Tafsir, Ahmad, dkk. Cakrawala
pemikiran pendidikan Islam. Bandung: Mimbar Pustaka, 2004.
Tim
Pakar Yayasan Jati
Diri Bangsa, Pendidikan Karakter di
Sekolah: Dari Gagasan ke Tindakan. Jakarta:
PT Elex Media Komputindo, 2011.
Tohirin. Psikologi Pembelajaran PAI. Jakarta: PT RajaGrafindo Pesada, 2005.
Usman, Husaini, dan Akbar, Purnomo Setiadi. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.
UU RI No. 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jogjakarta: Media Wacana Press, 2003.
Zuhairini, dkk. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta:
Bumi Aksara, 2009.
Komentar
Posting Komentar